Sidrap — Ramadan selalu punya cara mempertemukan orang-orang dalam suasana yang lebih cair. Rabu malam nanti (25/2), di Masjid Al-Ikhlas Mapolres Sidrap, buka puasa bersama bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjelma ruang komunikasi yang lebih jujur—tanpa jarak, tanpa sekat.
Yang hadir bukan hanya jajaran internal kepolisian. Insan pers dari berbagai organisasi tampak duduk berdampingan. Ada Kolaborasi Jurnalis Indonesia (KJI) Sulawesi Selatan, PWI, SMSI, JMSI, HIPSI, FPII, hingga KWRI. Momentum ini seperti menegaskan satu hal: hubungan polisi dan media di Sidenreng Rappang selama ini terbangun dalam irama yang relatif sehat.
Sekretaris KJI Sulsel, Muh Tohir, menyebut bukber ini bukan sekadar makan bersama. “Ini ruang memperkuat komunikasi yang terbuka. Pers tetap menjalankan fungsi kontrol sosial. Tapi sinergi dan dialog harus terus dijaga,” ujarnya.
Nada itu bukan basa-basi. Selama ini, relasi KJI dan Polres Sidrap berjalan dalam koridor profesional. Kritik tetap ada. Konfirmasi tetap dilakukan. Namun komunikasi tak pernah buntu. Di tengah derasnya arus informasi—yang kadang lebih cepat dari klarifikasi—hubungan seperti ini menjadi penting.
Kapolres Sidenreng Rappang, AKBP Dr. Fantry Taherong, memahami betul posisi pers. Baginya, media bukan sekadar penyampai kabar, tetapi mitra strategis dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat.
“Kami menyadari peran penting media dalam menyampaikan informasi yang benar. Melalui silaturahmi ini, kami ingin memperkuat kemitraan yang profesional dan saling menghargai,” tegasnya.
Kalimat itu sederhana, tetapi substansinya jelas. Transparansi dan keterbukaan menjadi fondasi. Tanpa itu, kepercayaan publik sulit tumbuh.
Selama ini, Polres Sidrap relatif responsif terhadap konfirmasi media. KJI pun menjaga etika profesi—mengutamakan verifikasi dan keseimbangan. Relasi semacam ini bukan berarti tanpa kritik. Justru di situlah letak kedewasaannya: saling mengingatkan tanpa harus berhadap-hadapan secara emosional.
Bukber malam nanti menjadi simbol. Polisi dan jurnalis duduk sejajar, berbagi cerita, bertukar pandangan. Tidak ada podium tinggi. Tidak ada jarak formal berlebihan.
Di tengah dinamika sosial dan derasnya informasi digital, sinergi seperti ini adalah modal sosial. Sidrap butuh keamanan. Sidrap juga butuh informasi yang jernih dan berimbang.
Ramadan menghadirkan suasana hangat. Tetapi komitmen profesional harus hidup sepanjang tahun. Dan dari Masjid Al-Ikhlas malam itu, pesan itu terasa jelas: kemitraan yang baik bukan dibangun dalam satu pertemuan, melainkan dirawat lewat komunikasi yang konsisten.(yus)

